Senin, 29 September 2014

Kasih Sayang Seorang Ayah Dan Edukasi Finansial



Dua kali saya hampir gagal menamatkan kuliah jika saja tidak ada warisan dari ayah. Warisan yang benar-benar saya syukuri karena manfaatnya yang sangat besar bagi kehidupan saya dan keluarga.

Tetapi sangat keliru jika mengira ayah saya seorang kaya raya atau milyuner, ayah saya justru bukan orang yang berkecukupan. Penghasilan ayah tidak besar, bahkan boleh dikatakan kecil jika dibandingkan orang lain dan jumlah tanggungan keluarga.

Karena melihat keadaan keluarga, selepas lulus sekolah menengah saya hampir memutuskan untuk tidak melanjutkan pendidikan. Apalagi kakak juga masih kuliah tingkat tiga di satu perguruan tinggi swasta, pastinya masih membutuhkan biaya cukup banyak jika saya juga kuliah. Tapi ayah malah mendorong saya untuk mendaftar di salah satu perguruan tinggi negeri.

Ayah bukan orang yang kaya, tidak bisa mewariskan harta. Karena itu sekolahlah setinggi mungkin, mumpung ayah masih bisa membiayai. Jangan khawatirkan soal biaya” itu pesan ayah yang paling saya ingat.

Peristiwa kedua yang hampir mengakhiri impian saya menyelesaikan kuliah adalah saat ayah meninggalkan kami. Ketika itu saya berniat berhenti kuliah untuk bekerja membantu ibu. Rasanya mustahil bagi ibu, yang hanya seorang ibu rumah tangga, untuk membiayai ketiga putranya. Bagi saya, harus ada salah satu dari kami yang berkorban membantu ibu. Kakak sedang menyelesaikan skripsi, sementara adik kelas 1 SMA, tidak mungkin salah satu dari mereka yang harus mengakhiri pendidikan. Saya lah yang paling logis untuk membantu ibu.
Tetapi anehnya, ketika saya mengutarakan niat untuk bekerja, ibu malah mendorong saya untuk tetap melanjutkan kuliah. “Tidak usah mengkhawatirkan ibu” kata ibu sambil masuk ke kamar sebentar lalu keluar menunjukan sesuatu kepada saya.

Ternyata ayah sudah benar-benar merencanakan segala sesuatu dengan matang untuk menunjang studi anak-anaknya. Sejak saya kelas 1 SMP ayah sudah membuatkan asuransi pendidikan untuk saya, demikian juga kakak dan adik saya, sehingga seluruh biaya pendidikan sudah tidak lagi memberatkan keuangan keluarga. Di saat yang sama, ayah juga mempersiapkan asuransi, sehingga jika terjadi sesuatu pada dirinya sebagai tulang punggung keluarga, kami yang ditinggalkan tidak sampai menderita dan kekurangan.

Saya menangis, tidak kuat menahan haru mengetahui cinta dan pengorbanan yang telah dilakukan ayah untuk keluarga. Bahkan di saat telah meninggalkan kami, ayah masih mampu memberikan nafkah yang lebih dari cukup untuk keluarganya.
Bukti penting merencanakan keuangan sebagaimana yang dilakukan ayah benar-benar membekas dalam ingatan. Sehingga seiring berjalannya waktu, ketika saya selesai kuliah dan sudah mandiri saya menjadikan ayah sebagai model utama dalam perencanaan keuangan. Sejak menerima gaji pertama, saya sudah menyusun rencana keuangan pribadi untuk jangka panjang. Beberapa waktu kemudian, melalui seorang kawan saya mendaftarkan diri sebagai nasabah di Sun Life Financial untuk memanfaatkan keuntungan Brilliance Hasanah Protection Plus. Itu semata-mata saya lakukan untuk masa depan dan orang-orang yang saya cintai.
Saya merasa sangat beruntung memiliki seorang ayah yang memiliki kesadaran keuangan sedemikian tinggi. Keberhasilannya mengelola keuangan tidak hanya mengantarkan kami anak-anaknya untuk bisa mengenyam pendidikan tinggi, tetapi memberikan edukasi langsung dan kesadaran keuangan sejak usia muda. Contoh nyata mengelola keuangan itulah yang saya sebutkan sebagai salah satu warisan terbaik yang ditinggalkan mendiang ayah.



Bogor, 30 September 2014
Ditulis Untuk SUN ANUGERAH CARAKAKOMPETISI MENULIS BLOG2014

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar